Tujuh Hal
30 July 2021
Bagian pertama dari cerita Anila Samudra.
Aku lihat dunia ini bukan sekedar bumi. Ada lagi. Ada lebih luas dan ramai dari ini. Pandanganku sangat jelas tentang persoalan begini. Dunia tak sendiri. Karena aku lihat dengan jeli.
Kalo kalian ga percaya, gapapa. Aku gak maksa, karena emang hal begini susah dipercaya. Semua orang anggap aku gila, walau sebenernya emang iya. Tapi, itu cukup melukai hati kecil seorang Anila Samudra.
Tapi, ini aneh tau! Aku ga pernah merasakan ini dulu. Waktu itu, aku bersama Nanda sedang membeli buku. Lalu aku pergi ke lorong ujung dari rak aku dan Nanda bertemu. Sayu-sayu, aku lihat lelaki muda membaca buku. Gelagatnya seperti manusia pada umumnya, siapa kira dia bukan manusia?
Itu kala kami pertama bertemu. “Hamid.” Suaranya berat, kayak anak remaja baru dewasa. Jelas sekali suaranya. Hamid ini pria muda, aku tebak seumuran dengan Nanda atau seumuran denganku ya? Aku gak tau dan gak mau tau.
Jelas dong, aku takut ga karuan. Walau sebelumnya udah pernah liat begituan, yang ini beda dari sebelumnya. Lelaki muda ini jelas memiliki wewenang di dunianya yang buat aku gak bisa asal kalo ada dia. Cukup menguras energi yang kupunya, dia gamau lepas gitu aja.
Aku jelas dirugikan, aku ga terima. Jadi, Anila Samudra akan melaksanakan rapat sidang paripurna dengan Hamid yang selalu mengikutinya! Tolong saksikan dengan seksama, karena aku akan memulai rapatnya. “Hamid! Jelaskan kenapa kamu ikutin aku mulu?” Pertanyaan pertama yang aku lontarkan padanya.
Hamid tatap aku intens tak tertebak, aku gabisa nebak. Hamid bilang, “Mau aja.” Alasan gak masuk akal yang pernah aku dengar. Hamid ini lebih banyak bertindak daripada bicara, juteknya luar biasa. Aku tanya lagi, “Yang detail kek, jangan bikin aku mikir. Nyusahin banget sih jadi hantu.”
Dia mendelik tak suka, aku salah bicara. “Eh, maaf maksudku, nyusahin banget sih jadi cowo. Gak jelas ah kamu, ini kenapa lagi aku minta maaf. Harusnya kamu yang minta maaf tau! Kamu ini, aku jadi kesel banget. ASTAGA! Apa pas aku mandi kamu ngintip? Wah, kurang ajar banget sih. Kamu—”
“Sudah?” Jelas aku ternganga, aku belum selesai bicara udah dipotong aja. Belum selesai aku membalas, “Kamu mirip Sania, pacar saya dulu. Saya banyak hal yang belum saya lakukan bersamanya, itu kenapa saya tetap terjebak di sini. Makanya saya menempel sama kamu, Anila.”
“Terus? Aku harus apa, Hamid? Aku Anila, Anila Samudra. Bukan Sania.” Jelas aku ga terima, aku beda dengan Sania yang Hamid sebut sebagai pacarnya. Aku ga suka disamain, walau memang penampilanku sama, jelas tetap beda. “Jangan cari Sania ditubuh Anila.”
Hamid masih menatapku, aku juga menatapnya dengan tatapan memburu. “Saya ga minta sesajen seperti mereka, saya hanya mau kamu seperti ini, seperti Anila biasanya.” Aku menatapnya curiga, memang ada ya hantu ga minta apa-apa? Kebanyakan yang kutemui, mereka meminta banyak hal yang bahkan ga masuk akal.
“Yaudah! Aku ga suka kamu ikutin aku terus, kalo kamu suka buku yang aku baca. Ambil aja, tapi kamu pergi dari sini!” ujarku. “Saya maunya kamu, apa saya perlu ambil kamu dari sini dan pergi?” ujarnya, jelas membuatku membelalakan mata.
“Ya engga!! Kamu ini mau apa? Bilang.” Ia nampak diam, mungkin mencari jawaban. Aku tunggu dia menjawab pertanyaan yang kulontarkan. “Ada tujuh hal yang belum saya rasakan bersama Sania, apa kamu mau buat saya merasakan itu? Setelah itu saya akan pergi dan gak bakal kembali. Saya janji.”
Aku jelas ragu, takutnya muslihat Hamid, dia kan hantu. Maksudku, kali aja dia boong gitu. Apa yang mau kamu percayain kalo ada hantu bilang begitu? Kalo aku sih ya, ga percaya. Tapi karena ini penting dan bisa bikin dia pergi selamanya, jawabanku adalah, “Tujuh hal selama seminggu, aku bakal lakuin itu untukmu.”
To be continue ....
Kreatif sekali ceritanya 🥰
BalasHapussemangat bikin cerpen nya ka, sangat bagus
BalasHapusBagus sekalihh
BalasHapusWaduhh kak keren sekali tulisannya.. sangat mengharukan. Semangat terus kak
BalasHapusomaygat keren sangat menyetuh hati bangett..
BalasHapuskerenn bangettt
BalasHapus